KPIH Candrabhaga: Pebisnis Ikan Hias Tembus Pasar Internasional

KPIH Candrabhaga: Pebisnis Ikan Hias Tembus Pasar Internasional
Omset per Bulan Rp 5-Rp 20 Juta

Radar Bekasi, Selasa, 02 November 2010 , 07:40:00
Laporan: Sammy akbar

SEJUMLAH peternak kan hias air tawar di Bekasi, Jawa Barat, suda mengekspor ikan hias yang mereka kelola ke manca negara. Omset dari hasil ekspor mereka juga cukup lumayan. Dalam satu bulan saja bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 20 juta.

Suryadi yang merupakan Ketua Koperasi Ikan Hias Candrabaga di Bekasi, berhasil merangkul sekitar 26 peternak ikan hias untuk membudidayakan ikan air tawar tesebut, yang kemudian dijual ke berbagai kota sampai ekspor ke sejumlah negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura.

Menurut, dalam satu hari permintaan terhadap ikan hias tersebut bisa mencapai 1.000 ekor. “Biasanya ikan hias yang di ekspor jenisnya beraneka ragam, mulai dari ikan blackghost, palmas, rainbow bosemani, dan diamond tetra,” katanya.

“Adapun keuntungan dari hasil penjualan yang kami peroleh, biasanya antara 10 persen sampai dengan 20 persen,” katanya.

Selain itu, bagi peternak yang sudah menjadi anggota koperasi, akan mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) pertahunnya. “Kalau ada pemintaan dari onsumen, biasanya akan diambil dari 20 kolam yang sudah dimiliki koperasi atau dari peternak yang sudah menjadi anggota sesuai dengan jumlah permintaan,” ujarnya.

Sekretaris Koperasi Ikan Hias Candrabaga Ali Anwar menambahkan, bagi peternak ikan hias yang menjadi anggota koperasi, bisa mengembangkan usahanya melalui jaringan koperasi.

“Target kami ke depan adalah, bisa menjadi eksportir ikan hias ke manca negara. Karena selama ini, baru menjadi suplier,” papar lelaki berkacamat ini.

Lanjut Ali, di bekasi sudah selayaknya ada centra ikan hias, sehingga masyarakat yang datang dari luar kota maupun manca Negara, bisa mencari sejumlah ikan hias yang diinginkan. Oleh karena itu, ia berharap, pemerintah hendaknya menyediakan tempat yang layak dan strategis buat pebisnis ikan hias di bekasi.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Husni: Kalau Mau Kuat, Bentuk Dewan Ikan Hias

Husni: Kalau Mau Kuat, Bentuk Dewan Ikan Hias

Oleh Ali Anwar (koperasiikanhiaskotabekasi.wordpress.con)

JAKARTA — Inspektur Jjenderal Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Husni Manggabarani mengatakan, komunitas yang berhubungan dengan ikan hias perlu bergabung dalam organisasi Dewan Ikan Hias Indonesia.

“Kalau kita mau kuat, harus membentuk Dewan Ikan Hias Indonesia,” kata Husni kepada para peserta pembahasan rencana pembentukan Dewan Ikan Hiasa Indonesia di Museum Ikan Air Tawar Taman ini Indonesia Indah, Jakarta, Jumat (28/1/2011).

Alasannya, Indonesia jauh kalah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. “Padahal, ikan hias paling banyak jenisnya di Indonesia,” kata Husni. Dampaknya, kata dia, negara luar selalu mengklaim ikan hias asal Indonesia. “Misalnya, botia dikalim Singapura, cupang diklaim Thailand, rainbow diklaim Prancis,” ujarnya.

Meskipun Indonesia berada pada peringkat ketiga dunia, Husni menambahkan, pertumbuhan ekspor ikan hias Indonesia hanya 4,7 persen. Ini lebih rendah dibandingkan negara pesaing, seperti RRC (64,43 persen), Taiwan (38,62 persen), Srilanka (32,36 persen), dan Singapura (12,74 persen).

Adapun sumber daya manusia, sumber daya alam, pemerintah, dan peminat atau pebisnis perikanan ikan hias, “Belum bersinergi optimal untuk menjadi kekuatan pertumbuhan.”

Di sisi lain, Husni mengungkapkan, peluang permintaan makin tinggi untuk domestik maupun ekspor. Bisnis ikan hias juga dapat dikerjakan dalam skala berjenjang yang memerlukan ketekunan dan keterampilan khusus. “Harga ikan hisa juga menjanjikan. Ikan arwana, misalnya, bisa laku dijual melampaui Rp 100 juta per ekor,” Husni mengungkapkan.

Permasalahnnya, katanya, kita kekurangan sarana pendukung, terutama transportasi darat dan laut untuk distribusi dan pemasaran. Ekspor masih tergantung pada terminal poros Singapura. “Akibatnya, nilai tambah menjadi hilang.”

Peternak ikan hiasa, memiliki keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi untuk pengembangan induk atau bibit ikan hiasa unggul. Hal ini menyebabkan sebagian produsen belum berkemampuan memenuhi permintaan ikan berkualitas ekspor dalam jumlah yang besar.

Di Indonesia, amat minim pomosi untukmikan hiasa, baik di pasar domestik maupun global. “belum menggunakan sistem e-market,” ujarnya. Beberapa jenis ikan hias juga masuk dalam appendix CITES. “Penangkapan ikan hias yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan pestisida dan sianida.”

Husni berharap, Dewan Ikan Hias Indonesia memiliki visi Indonesia sebagai produsen ikan hias utama dunia yang berbasis pada sumber daya lestari dan berdaya saing tinggi.

Misinya, sebagai pengembangan bisnis ikan hiasa mulai dari skala kecil sampai skala besar untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor, meningkatkan kemampuan dan kualitas produksi, pendapatan dan kesejahteraan pelaku bisnis ikan hias mulai dari hulu sampai hilir, membangun sistem bisnis ikan hias yang handal di era globalisasi, dan menciptakan peluang baik pengembangan maupun introduksi jenis-jenis ikan hias asli Indonesia untuk masuk pasar domestik dan ekspor.

Dewan Ikan Hias Indonesia ditujukan agar menjadikan bisnis ikan hias yang memberikan kontribusi ekonomi yang tinggi, pelestarian plasma nutfah, dan keunggukan ikan hias Indonesia.

Ali Anwar (koperasiikanhiasbekasi.wordpress.com)

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag | Tinggalkan komentar

Dewan Ikan Hias Akan Dideklarasikan di Malang

Dewan Ikan Hias Akan Dideklarasikan di Malang

Ali Anwar (koperasiikanhiasbekasi.wordpress.com)

JAKARTA–Sudah sebulan ini, komunitas yang berhubungan dengan ikan hias Indonesia tengah menggodok pembentukan Dewan Ikan Hias Nasional Indonesia di Museum Ikan Hias Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Bila sudah matang, Dewan Ikan Hias Nasional Indonesia segera dideklarasikan. “Rencananya, Dewan Ikan Hias akan deklarasi di Malang, Jawa Timur, 21 Februari 2011,” kata Pensihat Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan, Maxdeyul Sola, saat memimpin pertemuan, Jumat (28/1/2011).

“Kita akan membentuk tim inti untuk merumuskan semua komponen yang berkaitan dengan keorganisasian, seperti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga,” ujar Sola.

Sola mengungkapkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, berpesan agar Dewan Ikan Hias dikelola oleh kepengurusan yang independen, tidak bisa dikendalikan oleh kekuatan partai politik. “Bukan didikete, bukan pokoke,” katanya.

Sekretaris Koperasi Peternak Ikan Hias Candrabhaga Kota Bekasi, Ali Anwar, menyambut pembentukan Dewan Ikan Hias. “Sebuah langkah cepat yang harus didukung,” kata Ali.

Persoalannya, kata dia, apakah deklarasi yang akan digelar pada 21 Februari sudah mewakili semua komponen komunitas ikan hias, mulai dari peternak, pedagang, eksportir, sampai hobiis. “Kapan membentuk kepengurusan di tingkat provinsi, kota, dan kabupaten?,” ujarnya.

Ali sependapat dengan tekad yang akan menjadikan dewan ini sebagai organisasi yang independen. Namun, Ali pesimistis dewan ikan hias akan menjadi organisasi yang benar-benar independen.

“Biasanya, pada tahap awal pembentukan amsih independen, tapi setelah besar dan terbentuk di daerah-daerah, akan dimanfaatkan oleh orang-orang politik sebagai kuda tunggangan politik,” kata Ali.

Direktur Produksi Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Iskandar Ismanadji, mengatakan penyelenggaraan deklarasi dewan ikan hias di Malang, karena di Malang sudah ada forum ikan hias. “Mereka bersedia menjadi tuan rumah,” kata Iskandar.

Malang, kata dia, direncanakan hanya untuk deklarasi. Adapun pembahasan AD/ART dewan ikan hiasa, akan dibahas dalam forum kongres paska deklarasi. “Deklarasinya di Malang, kongresnya bisa saja di Jakarta atau tempat lain sesuai kesepakatan,” ujarnya.

Iskandar sependapat dengan Sola dan Ali agar dewan ikan hias murni independen. “Tidak boleh menjadi tunggangan politik,” katanya. Karena bersifat independen, dia menambahkan, keanggotaannyapun independen.

“Syaratnya, mendaftar. Jadi, anggotanya siapapun yang berhubungan dengan ikan hias, sifatnya perorangan,” katanya. Adapun para pimpinan organisasi ikan hias yang sudah terbentuk, masuk di jajaran Majelis Pertimbangan Anggota (MPA).

Presiden Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), Budi Widjaja, mempertanyakan keberadaan dewan ikan hias, padahal di sisi lain kini sudah ada Perhimpunan Ikan Hias Indonenesia (PIHI). “Apa tidak tumpang tindih?,” kata Budi.

Dia juga mempertanyakan kepengurusan dan keanggotaan di dewan ikan hias. “Pengurus APKI bisa masuk dalam jajaran MPA, tapi komunitas-komunitas di bawah APK tidak mungkin duduk di dewan. kalaupun masuk, secara pribadi sebagai pengurus dan anggota,” katanya.

Ali Anwar (koperasiikanhiasbekasi.wordpress.com)

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Tak Berkategori | 1 Komentar